Uwe mPemata Press

News / Sport / Health / Humor / Education


Leave a comment

~ MENCEGAT LAILATUL QADR ~

 Ada semacam kesalahkaprahan dalam menyongsong malam kemuliaan (Lailatul Qadr). Terutama, karena menganggap Lailatul Qadr bisa dicegat kedatangannya oleh sembarang orang. Sehingga, lantas ada yang bertahan melek malam agar bisa tetap terjaga pada malam yang diperkirakan Lailatul Qadr bakal datang. Tak jarang, orang-orang yang demikian ini, mencegat tidak sambil mengkaji kandungan Al Qur’an melainkan sambil begadang belaka.

Memang puncak puasa Ramadan adalah Lailatul Qadr. Hampir semua umat Islam yang paham tentang ilmu puasa mengharapkan bisa bertemu dengan malam yang mulia dan penuh berkah itu. Masjid-masjid di berbagai kota di Indonesia maupun belahan dunia dipenuhi orang-orang yang beriktikaf demi memenuhi harapan untuk bertemu Lailatul Qadr yang penuh hikmah.

 Malam yang diceritakan Al Qur’an memiliki kualitas lebih dari seribu bulan itu, kata Rasululah SAW selalu hadir di sepuluh hari terakhir puasa. Karena itu sejak memasuki hari ke-21 sampai menjelang Idul Fitri umat Islam berlomba-lomba beriktikaf memusatkan perhatian kepadanya. Konon ada yang meyakini malam itu bakal datang di hari-hari ganjil: 21, 23, 25, 27, dan 29. Sehingga tak jarang memunculkan keinginan mencegatnya hanya di malam-malam ganjil itu. Meskipun banyak juga yang tak mau main cegat-cegatan, mengikhlaskan iktikaf karena Allah semata, sepanjang hari-hari terakhir Ramadan.

Di Mekah dan Madinah sendiri, masjid penuh sesak dihadiri ratusan ribu jamaah. Hampir-hampir seperti suasana musim haji. Demikian pula masjid-masjid di Mesir dan negara-negara lainnya. Sepuluh hari terakhir Ramadan adalah malam-malam yang sangat istimewa. Banyak hamba Allah yang merindukan pertemuan dengan-Nya dalam kalamullah yang sedang dibacanya, meskipun tak sedikit pula yang sekedar ingin memperoleh keberkahan Lailatul Qadr. Dan lantas mencegatnya.

 Sesungguhnya, point penting Lailatul Qadr bukanlah pada datangnya ‘sang malam’, melainkan pada turunnya ‘sang Jibril’ bersama para malaikat yang menyertainya. Jika penekanannya pada ‘sang malam’ maka siapapun bisa bertemu dengannya, meskipun katakanlah ia mencegat Lailatul Qadr sambil bermain kartu. Tentu pemahamannya bukan demikian. Hanya orang yang benar-benar layak sajalah yang bakal bertemu dengan para malaikat itu. Dengan kata lain, jika ada seribu orang sedang beriktikaf bersama di suatu tempat, belum tentu semua orang itu bakal didatangi oleh Sang Jibril.

 Siapakah mereka yang bakal bertemu dengan malaikat pembawa wahyu itu? Adalah mereka yang jiwanya telah tersucikan oleh puasa Ramadannya selama dua puluh hari yang pertama. Ini mirip dengan cerita pewayangan, dimana ksatria yang bertapa bakal memperoleh azimat Kalimasada di akhir pertapaannya. Dikarenakan, di akhir masa pertapaannya itu ia sudah memiliki jiwa yang suci dan bijak dalam menyikapi kehidupan.

Lailatul Qadr juga demikian. Ia hanya turun kepada orang-orang yang telah berpuasa dengan baik. Bukan puasa yang sekedar menahan lapar dan dahaga, melainkan puasa yang mensucikan jiwa raganya. Mulai dari pikiran dan perasaannya, penglihatan, pendengaran, dan segala ucapannya, sampai kepada seluruh tingkah laku dan perbuatannya.

Kesucian jiwa yang demikian itulah yang membuat jiwanya mudah teresonansi oleh kalamullah alias firman-firman Allah yang sedang dikajinya. Ibarat sebuah stasiun pemancar dengan pesawat radio. Jika frekuensinya sudah matching, maka seluruh informasi yang dipancarkan oleh stasiun radio itu akan tertangkap dengan mudah oleh pesawat radio. ‘’Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia. Pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh). Tidak (bisa) menyentuhnya kecuali orang-orang yang (telah) disucikan.’’ [Al Waaqi’ah: 77-79].

Makna ‘menyentuh’ dalam ayat tersebut bukanlah bersifat fisik, sebab menurut kalimat sebelumnya, Al Qur’an itu sebenarnya masih di Lauh Mahfuzh. Yang turun kepada manusia hanya berupa copy saja. Yakni hard-copy berupa teks  alias redaksi Al Kitab. Sedangkan yang kedua adalah soft-copy alias Al Hikmah.

Sayangnya kebanyakan umat Islam terjebak pada mengkaji Al Kitab yang berisi teks-teks saja. Termasuk di bulan Ramadan ini banyak yang mengkhatamkan Al Qur’an berulang-ulang, tapi hanya sebagai Al Kitab. Padahal substansi Al Qur’an itu bukan pada Al Kitabnya, melainkan pada Al Hikmah. Barangsiapa membaca Al Qur’an tanpa memahami isinya, ia temasuk orang-orang yang tidak memperoleh petunjuk.

Apakah yang dimaksud Al Hikmah? Ialah isi kandungan Al Qur’an yang dipahami secara mendalam, sehingga menjadi pedoman hidup yang nyata di dalam jiwa manusia. ‘’Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang mendalam tentang isi Al Quran) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa dianugerahi al hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang sangat ­banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman-firman-Nya).’’ [QS. Al Baqarah: 269].

Advertisements


Leave a comment

Puasa Ramadhan: Bulan “Back to Family”

Al Gore, calon presiden dari Partai Demokrat dalam pemilu Amerika Serikat tahun 2000 lalu dalam salah satu tema kampanyenya mengajak warga AS untuk “back to family“, kembali ke keluarga.

Ada tiga hal yang melatar belakangi kenapa Gore mengusung isu keluarga. Pertama, tingginya perceraian di Amerika. Kedua, membengkaknya jumlah anak-anak broken home. Ketiga, melonjaknya angka (kasus) perselingkuhan di masyarakat.
Tentu saja yang dikhawatirkan Gore tidak saja terjadi di Amerika, tetapi juga terjadi di Indonesia. Keluarga Indonesia sesungguhnya sedang berada pada titik nadir yang mengkhawatirkan. Beberapa alasan dapat dikemukakan. Pertama, ada kecenderungan terjadinya peningkatan angka perceraian. Menariknya, penyebab perceraian itu bukan semata-mata masalah ekonomi, perselingkuhan atau KDRT, tetapi lebih disebabkan oleh hal-hal yang bersifat psikologis, seperti kebosanan dan kejenuhan. Kedua, mencuatnya kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga, baik yang dialami oleh istri ataupun anak-anak. Ketiga, jumlah anak-anak yang mengalami broken home terus meningkat. Keempat, perilaku menyimpang yang dipertontonkan sebagian anak-anak. Ini membuktikan keluarga tidak lagi berperan sebagai “sekolah pertama” yang mendidik keluruhan moral anak-anak. (Azhari, AT.:2008)

Bulan Ramadhan sesungguhnya dapat dijadikan momentum, untuk menjadikan keluarga sebagai pelabuhan terakhir yang menyenangkan dan membahagiakan. Meskipun sering tidak disadari, Ramadhan telah berjasa mengembalikan perhatian setiap orang terhadap keluarganya. Sungguh Ramadhan menyadarkan kita bahwa sebenarnya kita memiliki sesuatu yang sangat berharga dalam hidup. Itulah keluarga.

Jujur harus diakui, saat-saat yang paling indah dalam kehidupan keluarga adalah ketika kita melakukan aktivitas secara bersama-sama. Makan bersama, shalat berjama’ah, santai sambil nonton TV bersama, rekreasi bersama, dan sebagainya, adalah momen-momen yang paling indah dan mengesankan bagi setiap keluarga. Dalam momen-momen tersebut rasa kasih sayang, kebersamaan, perhatian, kepedulian, penghormatan dan penghargaan terbangun dengan sangat mengesankan.

Selama bulan Ramadhan kita menemukan kembali momen-momen penting ini. Waktu berbuka adalah saat-saat yang paling indah bersama keluarga. Demikian juga pada waktu shalat berjama’ah. Andaipun kita tidak sepenuhnya mendapatkan momen berbuka bersama, paling tidak pada waktu makan sahur dan shalat Shubuh berjama’ah, masih dapat kita lakukan. Tentu saja, kesempatan berkumpul adalah kesempatan yang paling baik untuk mengetahui kondisi masing-masing anggota keluarga. Makan bersama, dapat dijadikan media untuk berbagi informasi berkeaan dengan aktivitas di luat ataupun rencana-rencana kehidupan pada masa datang. Terjadilah sharing information, diskusi, perdebatan, dan saling memberi masukan. Pada akhirnya, ikatan kekeluargaan yang selama ini terasa longgar kembali terjalin dengan baik.


Leave a comment

Take Care of Your “Roh”

One day Abu Bashir was in Masjidil Haram Mosque. He was fascinated watching thousands of people moving around the Ka’bah, listening to their roar of tahlil, prayer beads, and Takbir. He thought how lucky those people. They certainly will get a reward and forgiveness of God. Imam Ja’far al-Sadiq, a famous spiritual leader and one of the great scholars of the family of the Prophet, asked Abu Bashir to have his eyes shut. Imam Ja’far, then rubbed his face. When he opened his eyes again, he was surprised. Around the Ka’ba he saw lots of animals in various kinds—snort, howl, roar. Imam Ja’far said, “How many a wail or scream; how little pilgrimage.”
What was Abu Bashir saw at the first time was the human bodies, the second time were the forms of their spirit. We are creatures that live in two of nature as well. Our bodies live in the physical universe, bound in time and space. The ulama call this the physical universe as nasut nature, nature that we can see and we felt, we can use our senses to feel it. Meanwhile, our spirits live in the metaphysical nature, not bound in time and space. The ulamas call this nature as an angelic nature. According to the Koran, not only humans, but everything has its angelic. “Maka Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya malakut segala sesuatu. “The Holy One (God) is in His hand all things angelic. Dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.’ And unto Him ye will return. ” (QS. Yasin 83); ‘Dan demikianlah kami perlihatkan kepada Ibrahim, malakut langit dan bumi.” (QS. Al-An’arn 75) (Surah Yasin 83); ‘And so we showed to Abraham, angelic heaven and earth. “(Surat al-An’arn 75)
Our spirit, because it is located in the angelic nature, can not be seen by the our naked eyes. Spirit is the inner part of ourselves. He can only be seen by the inner eye. There are some among men who can see ghosts themselves or others. They can look to the angelic nature. This ability was obtained because they have trained eyes riyadhah batinya with spirituality or by grace of God (al-mawahib al-rabbaniyyah). Para Nabi, para walli, dan orang-orang saleh seringkali mendapat kesempatan melihat ke alam rnalakut itu. The Prophet, the walli, and pious people often get a chance to visit the malakut nature.




Leave a comment

Learning Arabic? Is it important?

Allah says in the holy Qur’an to the nearest meaning that “ And Allah has made Alqur’an easy for us to learn”. Look, what does it mean to us as the believers? Do you think Allah was just joking to us by saying this? The answer is NO. Allah SWT is indeed seriously wanting us to learn Qur’an properly. To learn Qur’an means to understand how to recite and to get insight of it. In what way? It is absolutely required to understand Arabic as a medium to reach that END. Getting to know Qur’an literally and comprehensively is demanding. Just to refresh our mind as true believers, the Holy Prophet Muhammad (peace and blessing be always be upon him) once said in ahadits to the nearest meaning: ‘the best amongst you is those who learns Qur’an and teaches it’. The implication is that responsibility of each of Muslim is to learn in order to be able to teach Qur’an. In a broad sense, it is the right of Qur’an towards the believers to learn and to propagate it in any circumstance and to anyone. But it is the first priority to believers since this call was first addressed to the believers at the time of companions. Today, majority of the people who indentify themselves as MOSLEM value English excessively higher than any language especially comparable to Arabic. This is the fact as a renowned preacher in England and Europe, Sheik Muhammad Al Jaihany once in the noble gathering said that nowadays many people were dying of English. He appointed that most saudian or Middle East youngsters were exceptionally proud of being able to speak English rather than being Arabic speakers. He made an example how an eminent Islamic scholar is Saudi Arabia was very proud of sending his son to England. This is just one case. A lot more cases here and there in the Muslim world prove this awfully sadly news. May Allah safeguard us from such an irritable thought. What about us as azzam or non-Arab speaker? It is more or less similar. We feel inferior and therefore we put ourselves as second-grade when we learn Arabic rather than English. This is absolutely naïf. How can Islam as a solely TRUE civilization develop if such inferiority remains in the heart of the MOSLEM? How can we win over western civilization if we value our civilization lesser than theirs? A lot more such questions need to answer in actions. This lesson demands us as Muslim to ponder the importance of Arabic over the other languages in the world. The value will come to us if we try our best to get rid of our worldly perspectives about Qur’an and Arabic. Our motivation should start with full conviction of the promise of Allah, the Most merciful and the Most benevolence. Allah never denies His promise. Our conviction should be built on the fullest sincerity for The Almighty Allah’s sake, and then the door of understanding will gradually be opened. Why not open at once, one might ask this silly question. Again, Almighty Allah knows best that his creation called human being is extremely weak. Therefore, the door of understanding especially for Holy Qur’an is opened step by step according to level of sacrifice of a person. To which level of understanding can he or she reach depends wholly and solely to Allah. But Allah SWT is not blind. I do believe that the only way to reach a comprehensive understanding of Qur’an is to learn Arabic in the first place. Then learn other requisite components of Arabic for especially use for Quranic texts. Never say too old to start to learn Arabic.
wrote by : Ruslin Tendri Brighton BN1 5PA